Metode Pendeteksian dan Pengukuran Korona

Metode Pendeteksian Korona

Terjadinya korona dapat ditandai dengan timbulnya cahaya dan bunyi ditempat terjadinya korona tersebut, dan arus pulsa dalam rangkaian yang terhubung dengan elektroda sistem isolasi dimana korona terjadi. Berikut ini dijelaskan beberapa metode dalam mendeteksi ada tidaknya korona, antara lain:

  1. Emisi cahaya yang menyertai korona digunakan dalam penelitan dimana hubungan antara arus dan waktu harus ditampilkan dengan distorsi yang sekecil mungkin. Metode ini dapat diterapkan jika tempat terjadinya korona dapat terlihat.
  2. Bunyi yang dihasilkan oleh korona dapat dideteksi dengan penggunaan transducer tekanan supersonik dan receiver khusus. Metode ini dapat diterapkan hanya di tempat dimana korona terjadi merupakan lokasi sirkulasi udara bebas sehingga tekanan gelombang yang dihasilkan korona dapat mencapai tekanan supersonik transducer tanpa diperkuat. Metode ini dapat mendeteksi satu lokasi terjadinya korona yang jaraknya relatif dekat antara satu dengan yang lainnya dengan cepat dikarenakan kesensitifan transducer terhadap arah tekanan yang sangat baik.
  3. Metode yang paling sering digunakan adalah menampilkan sinyal, yang berkaitan dengan pulsa-pulsa arus dan pulsa tegangan dalam rangkaian eksternal yang terhubung dengan elektroda pada sistem isolasi dimana korona terjadi.

Metode Pengukuran Korona

Metode pengukuran korona terdiri dari beberapa metode menurut jenis benda uji atau kondisi eksternal terutama derau (noise), antara lain:

Metode Pengukuran dengan Kapasitor Kopling

Pengukuran dilakukan melalui impedansi Ck dan sesuai untuk pengujian benda uji yang ditanahkan dengan kapasitas elektrostatis yang besar sebagai suatu piranti yang terpasang, seperti pada Gambar 1 di bawah ini.

korona koplingGambar 1. Metode Pengukuran Dengan Kapasitor Kopling

Metode Pengukuran dengan Benda Uji Tidak Diketanahkan

Pengukuran melalui terminal pentanahan dari benda uji ketika benda uji Ca dapat diisolasi ke tanah dan sesuai untuk pengujian benda uji yang tidak diketanahkan dengan kapasitas elektrostatis yang kecil. Dapat ditunjukkan dengan Gambar 2.

korona tanah

Gambar 2. Metode Pengukuran Dengan Benda Uji Tidak Diketanahkan

Metode Pengukuran dengan Rangkaian Penyeimbang

Pengukuran dengan rangkaian pendeteksi keseimbangan, contohnya, metode yang hanya mengambil peluahan internal dengan menyeimbangkan derau eksternal dengan keseimbangan input jenis BL-1 NKS detektor peluah parsial (Gambar 3).

korona seimbang

Gambar 3. Metode Pengukuran Dengan Rangkaian Penyeimbang

Keterangan komponen gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Transformator Uji (T.T) digunakan untuk membangkitkan tegangan sampai nilai ratingnya tanpa mengalami peluahan parsial di dalamnya.
  2. Impedansi penahan (Zch) berguna untuk mencegah derau (noise) yang berasal dari sumber tegangan atau arus pulsa peluahan dari luar yang mengarah ke sumber tegangan. Impedansi ini harus dibuat sebesar mungkin di bawah kondisi dimana impedansi pada frekuensi komersial cukup rendah dibandingkan dengan impedansi pararel dari benda uji Ca dan kapasitor kopel Ck. Biasanya induktansi bernilai beberapa millihenri atau resistansi dari 1 sampai 100kΩ digunakan.
  3. Kapasitor kopel Ck, merupakan impedansi by-pass yang berfungsi untuk membentuk rangkaian tertutup arus pulsa. Kapasitor yang digunakan berkapasitas 1000 sampai 2000 pF.

Keterangan komponen masing-masing gambar:

  • T.T  >>>> Transformator Uji
  • Zch  >>>> Impedansi pendeteksi
  • Ca     >>>> Benda Uji
  • Ck     >>>> Kondensator Kopel
  • Co     >>>> Kondensator By-Pass.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: