Simpatetik Trip (Proposal)

PROPOSAL TUGAS AKHIR

 

EVALUASI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA PENYULANG DISTRIBUSI 20 KV TERHADAP KEMUNGKINAN GANGGUAN SYMPATHETIC TRIPPING SEWAKTU GANGGUAN SATU FASA KE TANAH

(Studi Kasus: G.I. Denai)

 

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam

menyelesaikan pendidikan sarjana ( S-1 ) pada

Departeman Teknik Elektro

 

Oleh

MITRO S. SIHOMBING

NIM : 060402018

 

 

 

 

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2011

ABSTRAK

 

Sistem proteksi diperlukan untuk memisahkan bagian yang mengalami gangguan dengan yang tidak mengalami gangguan sehingga sistem dapat menjalankan operasinya. Apabila peralatan proteksi memberikan respon yang salah terhadap gangguan makan terjadi Symphatetic Tripping. Symphatetic Tripping pada umumnya disebut tripping ikutan/palsu yaitu peristiwa yang menggambarkan kejadian ketika suatu peralatan proteksi merespon secara salah atau tidak diharapkan pada suatu kondisi atau keadaan sistem tenaga listrik yang sedang mengalami gangguan.

Hasil penulisan Tugas Akhir ini yaitu dapat meminimalkan gangguan yang terjadi pada Jaringan Distribusi 20 kV yang disebabkan oleh gangguan sympathetic tripping dengan menggunakan rele gangguan tanah inverse time pada gangguan satu fasa ke tanah.

 

 

I.          JUDUL TUGAS AKHIR

EVALUASI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA PENYULANG DISTRIBUSI 20 KV TERHADAP KEMUNGKINAN GANGGUAN SYMPATHETIC TRIPPING SEWAKTU GANGGUAN SATU FASA KE TANAH

 

II.        BIDANG TUGAS AKHIR

Tugas akhir ini adalah pada bidang sistem tenaga listrik

 

III.       LATAR BELAKANG

Dalam sistem tenaga listrik diperlukan sistem distribusi Jaringan Tegangan Menengah yang dapat menjamin keandalan dan kesinambungan penyaluran, keserasian penyaluran dan penyediaan tenaga listrik antara konsumen dan produsen. Jumlah gangguan pelayanan merupakan indikator untuk mengetahui keandalan suatu sisten Jaringan Tegangan Menengah. Semakin besar jumlah gangguan berarti keandalan sistem semakin rendah, begitu pula sebaliknya apabila semakin kecil jumlah gangguan berarti keandalan sistem semakin tinggi pula.

Salah satu gangguan yang sering terjadi pada sistem Jaringan Tegangan Menengah adalah gangguan yang dikenal sebagai gangguan Symphatetic Tripping, dimana suatu proteksi atau pengaman dapat merespon secara salah atau tidak diharapkan pada suatu kondisi atau keadaan sistem tenaga listrik yang sedang mengalami gangguan. Peristiwa ini pada umumnya disebut dengan tripping ikutan atau palsu.

Symphatetic Tripping terjadi pada peralatan proteksi yang dihubung secara seri maupun paralel. Untuk menanggulangi masalah Symphatetic Tripping ini maka dapat diatasi dengan menggunakan rele arus lebih dengan karakteristik inverse time sebagai pengganti rele defenite time, hal ini dikarenakan karakteristik rele inverse time yang waktu kerjanya bekerja berdasarkan arus gangguan, berbeda dengan definite time yang bekerja tidak berdasarkan arus gangguan.

Dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengevaluasi koordinasi rele proteksi arus lebih pada penyulang distribusi primer terhadap kemungkinan gangguan sympathetic tripping sewaktu gangguan satu fasa ke tanah.

 

IV.       TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah bagaimana cara untuk meminimalkan gangguan yang terjadi pada Jaringan Tegangan Menengah distribusi yang disebabkan oleh gangguan Symphatetic Tripping, serta perhitungan dan penganalisaan rele gangguan tanah inverse time  sebagai cara untuk mengatasi symphatetic tripping pada gangguan satu fasa ke tanah.

Penulisan tugas akhir ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan pengertian dan penjelasan kepada penulis dan pembaca tentang gangguan symphatetic tripping pada saat terjadi gangguan satu fasa ke tanah serta mengatasi gangguan tersebut.

 

V.        BATASAN MASALAH

Pembatasan masalah Tugas akhir ini ditekankan pada penganalisaan dan pengevaluasian gangguan sympathetic tripping akibat gangguan satu fasa ke tanah.

  1. Akibat gangguan satu fasa ke tanah dengan studi kasus Gardu Induk Denai.
  2. Perhitungan setelan waktu kerja rele gangguan tanah dengan karakteristik waktu terbalik (inverse time) untuk mengatasi arus yang terjadi pada titik gangguan.

 

VI.       TINJAUAN PUSTAKA

  1. Gangguan Symphatetic Tripping

Symphatetic Tripping yaitu peristiwa yang menggambarkan kejadian sewaktu peralatan proteksi merespon tidak diharapkan atau salah pada saat sistem tenaga dalam keadaan gangguan.

  1. Tripping Seri

Gambar 1 menggambarkan rangkaian yang mengalami gangguan sympathetic tripping. Pada gambar terlihat gangguan satu fasa ke tanah mengakibatkan A dan B mengalami trip. Pada kejadian ini tidak diharapkan B untuk trip. Beberapa penyebab yang memungkinkan kejadian di atas yaitu:

a)         Setting arus minimum gangguan tanah terlalu rendah

b)        Kenaikan arus yang melewati pemutus B yang disebabkan pergeseran netral, yang akan menyebabkan:

1)        Kenaikan tegangan pada penyulang sehat

2)        Kemungkinan terjadi kejenuhan transformator (transformator saturation) pada fasa-fasa yang mengalami gangguan.

Gambar 1. Rangkaian yang mengalami gangguan

  1. Tripping Paralel

Gambar 2 menggambarkan hubungan jaringan untuk membahas symphatetic tripping dari suatu pemutus (interrupter) yang terhubung secara paralel. Gangguan penyulang ke tanah menyebabkan kedua pemutus A dan B trip, sedangkan tidak diharapkan B untuk trip. Beberapa penyebab B untuk trip yaitu:

a)         Pergeseran titik netral pada penyulang PMT B akibat gangguan, tergantung rasio perbandingan Z0/Z1 dari sistem, menghasilkan:

1)        Kenaikan tegangan dan arus pada penyulang sehat

2)        Kemungkinan saturasi transformator pada penyulang sehat

b)        Hubungan transformator di seberang B yang memperkenankan arus urutan nol melewati B

c)         Besarnya arus kapasitif dari penyulang sehat (B) yang mengalir di titik gangguan pada penyulang yang terganggu (A)

Jika dibandingkan antara tripping seri dan tripping paralel, penyebab 1 dan 2 pada tripping paralel sama seperti penyebab terjadinya tripping seri. Sedangkan penyebab 3 tidak terjadi pada tripping seri.

 

Gambar 2. Hubungan JTM dengan pemutusnya yang terhubung secara paralel

B.        Gangguan Symphatetic Tripping Akibat Arus Kapasitif

Karena adanya kapasitansi antara konduktor fasa dan tanah pada jaringan, maka masing-masing arus kapasitif yang tidak seimbang sewaktu terjadi gangguan satu fasa ke tanah akan mengalir kembali ke sumber melalui konduktor fasa yang terhubung pada bus yang sama di Gardu Induk, maka ketidakseimbangan arus kapasitif dari penyulang lain juga akan kembali ke sumber melalui konduktor fasa di penyulang yang terganggu.

Pada gambar 3 dapat dilihat gambar penyulang sebelum terjadi gangguan. Penyulang tersebut sebelum terkena gangguan masih dalam keadaan normal. Pada sistem kondisi normal, antara konduktor fasa dan tanah akan mempunyai nilai kapasitansi yang dianggap sama pada masing-masing fasanya walaupun jarak antara konduktor fasa ke tanah belum tentu sama untuk masing-masing fasanya. Jadi jarak konduktor fasa ke tanah tidak mempengaruhi besarnya kapasitansi saluran.

Gambar 3. Penyulang 20 kV

Keterangan gambar:

CeR1, CeS1, CeT1          : kapasitansi ke tanah masing-masing fasa penyulang 1

CeR2, CeS2, CeT2          : kapasitansi ke tanah masing-masing fasa penyulang 2

ZCT                            : Zero Current Transformator = trafo arus

Sesudah terjadi gangguan yaitu gangguan satu fasa ke tanah yang terjadi pada salah satu penyulang, misalkan di fasa T penyulang 1. Maka kapasitansi konduktor fasa yang terganggu menjadi terhubung singkat oleh gangguan tanah tersebut, sedangkan fasa yang tidak terganggu (fasa R dan fasa S) tegangannya naik sehingga arus kapasitif hanya mengalir di fasa yang sehat saja dan mengalir kembali ke sumber melalui titik yang terhubung di fasa T, karena fasa T sedang terhubung ke tanah.

Apabila penyulang lebih dari satu, maka analog dengan uraian arus kapasitif di penyulang yang terganggu, di penyulang lain yang sehat juga akan mengalirkan arus kapasitif ke tanah (Ice2) dan akan kembali ke sumber melalui titik gangguan di penyulang yang terganggu. Arus kapasitif pada titik gangguan ini merupakan gabungan dari arus kapasitif penyulang yang sehat dan arus kapasitif penyulang yang terganggu (Icef). Arus kapasitif dari penyulang yang sehat ini dideteksi oleh ZCT (Zero Current Transformator) penyulang yang terganggu. Gambar 4 menggambarkan rangkaian penyulang sesudah terjadi gangguan.

Gambar 4. Penyulang 20 kV saat gangguan satu fasa ke tanah

C.        Gangguan Satu Fasa ke Tanah pada Saluran Distribusi 20 kV

  1. Arus gangguan tanah

Arus kapasitif tidak tergantung dari tempat terjadinya gangguan dan hanya tergantung dari kapasitansi jaringan ke tanah. Karena adanya kapasitansi antara konduktor fasa dan tanah pada jaringan tersebut maka masing-masing arus kapasitif yang tidak seimbang sewaktu terjadi gangguan satu fasa ke tanah akan mengalir ke sumber melalui konduktor tiga fasa yang terganggu tersebut di titik gangguan, tetapi karena ada beberapa penyulang yang terhubung pada bus yang sama di gardu induk, maka ketidakseimbangan arus kapasitif dari penyulang lain juga akan kembali ke sumber melalui konduktor fasa di penyulang terganggu, sehingga arus kapasitif di penyulang terganggu ini menjadi lebih besar lagi menuju ke sumber, yang kemudian mentripkan PMT penyulang terganggu oleh rele gangguan tanah.

Terlihat pada Gambar 4 bahwa penyulang yang sehat teraliri arus kapasitifnya sendiri oleh ZCT yang juga menghasilkan induksi arus yang diteruskan ke GFR. Bila arus kapasitif ini cukup besar sampai melebihi Iset, maka GFR penyulang sehatpun ikut pick-up dan menghitung waktu untuk memberikan tripping ke PMT. Arus kapasitif distribusi besarnya:

Ice =                                                                                   (1)

Keterangan:

Eph      = tegangan fasa ke netral

C         = kapasitansi urutan nol dalam sistem

  1. Arus Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Saluran Primer 20 kV

Gambar 5 menggambarkan diagram segaris gangguan satu fasa ke tanah sedangkan Gambar 6 menggambarkan rangkaian ekivalen gangguan satu fasa ke tanah.

Gambar 5. Arus hubung singkat satu fasa ke tanah pada saluran

Gambar 6. Rangkaian ekivalen gangguan satu fasa ke tanah

Dari Gambar 6 dapat dijelaskan dengan rumus sebagai berikut:

 

 

(2)

 

 

  1. Arus di Titik Gangguan

Arus gangguan Ifault terdiri dari arus resistif (IR) dan arus kapasitif (Ice), adalah sebagai berikut:

a)         Arus Resistif (IR)

Arus ini juga merupakan arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah. Bila terjadi hubung singkat satu fasa ke tanah pada saluran maka arus gangguan satu fasa ke tanah dihitung dengan teori komponen simetris dengan nilai tegangan fasa sebelum terjadi gangguan tersebut. Maka besar arus resistifnya sama dengan besar arus gangguan seperti pada rumus dibawah ini:

(3)

 

b)        Arus Kapasitif (Ice)

Arus kapasitif ini tidak tergantung dari tempat terjadinya gangguan tapi hanya tergantung dari kapasitansi sistem ke tanah. Merupakan arus kapasitif pada fasa-fasa yang sehat pada penyulang terganggu. Dapat dilihat pada Gambar 4 dimana fasa R dan S sehat sehingga mengalir arus kapasitif IceS1 dan IceR1.

(4)

(5)

Maka Ifault dapat dihitung dengan:

Ifault =                                                    (6)

Secara vektoris adalah:

Ifault =                            (7)

Keterangan:

Eph       = tegangan fasa netral

RN        = arus resistif dari titik netral trafo ke tanah melalui NGR

IceR     = arus kapasitif fasa R penyulang 1 saat gangguan fasa T ke tanah

IceR2    = arus kapasitif fasa R penyulang 2 saat gangguan fasa T ke tanah

IceS2    = arus kapasitif fasa S penyulang 2 saat gangguan fasa T ke tanah

Ce        = kapasitansi jaringan per fasa ke tanah

  1. Komponen Arus Gangguan Hubung Singkat

Data trafo daya yang perlu diketahui: kapasitas, tegangan primer dan sekunder, belitan delta, CT ratio, impedansi trafo, tahanan pentanahan, MVA hubung singkat. Untuk memperoleh impedansi sumber yang ada dibelakang bus 150 kV dengan data MVA hubung singkat dengan menggunakan rumus:

(8)

Data penyulang yang diperlukan adalah: R (tahanan), L (induktansi), dan C (kapasitansi). Besarnya resistansi secara kilometer dari sebuah kawat diberikan harga perkiraan sebagai berikut:

Tembaga (Copper)    R(Ω) =                                                         (9)

Aluminium               R(Ω) =                                                       (10)

Almenec                   R(Ω) =                                                       (11)

Aluminium Iron        R(Ω) =                                                       (12)

Dimana

S: penampang melintang (cross section) dari kawat dalam mm2

Reaktansi per kilometer setiap fasa untuk SKTM kira-kira 0,08 Ω/km

Besarnya arus gangguan satu fasa ke tanah pada pentanahan dengan tahanan dibatasi 25 sampai dengan 60 % arus gangguan tiga fasa :

Untuk I = 60%I

 

3Z1 = 1,2Z1 + 0,6Z0

Z0 = 3Z1

Maka standar perhitugan PLN untuk mencari impedansi urutan positif dan impedansi urutan nol untuk mencari arus hubung singkat adalah sebagai berikut:

Z0 = 3Z1

Z1 = Z2                                                                                                      (13)

Sedangkan untuk mencari reaktansi kapasitif dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

(14)

Maka arus kapasitif dapat dicari:

(15)

Dimana:

C     = kapasitansi saluran per kilometer

p     = panjang saluran dalam kiometer

 

D.        Rele Gangguan Tanah dengan Karakteristik Waktu Terbalik (Inverse Time Relay) untuk Mengatasi Gangguan Satu Fasa ke Tanah

Yang dimaksud dengan rele karakteristik waktu terbalik (inverse time relay) adalah rele yang bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya arus. Pada rele gangguan tanah dengan karakteristik waktu terbalik (inverse time relay) diharapkan bekerja lebih cepat pada arus yang besar yang masuk ke rele, sehingga rele yang dekat pada titik gangguan diharapkan bekerja relatif lebih cepat. Dengan demikian hanya jaringan yang terkena gangguan saja yang terbuka (selected tripping). Rele gangguan tanah karakteristik waktu terbalik akan bekerja pada waktu dan arus lebih tertentu. Untuk memungkinkan adanya selected tripping dari gangguan tanah yang mengandung arus resistif dan arus kapasitif (penyulang terganggu) bekerja lebih cepat dari rele gangguan tanah di penyulang yang sehat maka sebaiknya dipakai rele dengan karakteristik waktu terbalik (inverse time relay).

Apabila dipakai rele gangguan tanah dengan karakteristik waktu tertentu (definite time) waktu bekerjanya tertentu setelah rele ini pick-up. Sehingga menghasilkan tripping serentak pada penyulang yang terganggu satu fasa ke tanah dan penyulang sehat yang hanya karena pick-up oleh arus kapasitif. Akibatnya rele dengan waktu tertentu (definite time) menjadi tidak sesuai untuk pengaman sistem dengan banyak penyulang yang terpaksa ditripkan termasuk dengan banyak penyulang yang penting.

Pemakaian rele gangguan tanah dengan waktu tertentu (definite time) yang semula bertujuan untuk menanggulangi masalah gangguan satu fasa ke tanah, dengan cara hitungan koordinasi yang paling mudah tetapi malahan membuat arus kapasitif pada penyulang pada penyulang sehat masuk ke rele pada penyulang yang tidak sehat, sehingga akan mengakibatkan terjadinya peristiwa symphatetic tripping. Penanggulangan masalah symphatetic tripping ini dengan pemakaian rele gangguan tanah dengan karakteristik waktu terbalik (inverse time relay). Waktu kerja rele untuk rele gangguan tanah dengan karakteristik waktu terbalik (inverse time relay) pada waktu normal digunakan Persamaan (16), tinggal memasukkan perbandingan arus hubung singkat dan arus settingnya.

(16)

Apabila penyulang sedang megalami gangguan maka digunakan Ifault (arus di titik gangguan) untuk mencari waktu kerja rele. Sedangkan cara mencari arus di titik gangguan menggunakan Persamaan (6).

(17)

Sedangkan waktu kerja rele di penyulang lain yang tidak mengalami gangguan, digunakan arus kapasitif dari masing-masing penyulang tersebut.

(18)

 

VII.     Metode Penelitian

Untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan tujuan yang akan dicapai dalam pembuatan tugas akhir ini, maka penyusunannya menggunakan metode sebagai berikut:

  1. Wawancara

Dengan cara melakukan tanya jawab dan konsultasi mengenai berbagai masalah yang dihadapi penulis dalam penulisan tugas akhir ini dengan dosen pembimbing yang ditunjuk dan kepada para ahli proteksi di lingkungan PT. PLN (Persero) P3B SUMATERA UPT MEDAN serta mencatat dan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan penyusunan tugas akhir ini.

  1. Studi Kepustakaan

Dengan cara membaca dan mempelajari teori tentang rele, gangguan hubung singkat pada jaringan distribusi 20 kV yang ada pada buku-buku di perpustakaan, jurnal-jurnal dan dari catatan-catatan penulis yang diperoleh selama perkuliahan.

 

VIII.    Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dan penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

Bab 1            Pendahuluan

Bagian ini menguraikan tentang latar belakang permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, batasan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab 2            Dasar Teori

Bagian ini menguraikan tentang filosofi proteksi, rele proteksi, koordinasi rele proteksi, gangguan hubung singkat dan pemutus tenaga.

Bab 3            Gangguan Sympathetic Tripping

Bagian ini menguraikan tentang gangguan sympathetic tripping pada penyulang distribusi 20 kV dan penanganan masalah sympathetic tripping dengan rele gangguan tanah serta data-data trafo tenaga dan data penyulang 20 kV.

Bab 4            Evaluasi Koordinasi Rele Proteksi Terhadap Kemungkinan Gangguan Sympathetic Tripping

Bagian ini menguraikan tentang perhitungan impedansi sumber, impedansi urutan nol, impedansi urutan positif, impedansi urutan negatif, kapasitansi dan perhitungan arus hubung singkat dari data-data yang diperoleh, settingan waktu kerja rele, pengujian selektivitas rele.

Bab 5            Kesimpulan dan Saran

Bagian ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran setelah pengerjaan tugas akhir ini.

 

RENCANA OUTLINE TUGAS AKHIR

 

 

ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

DAFTAR ISTILAH

BAB I             PENDAHULUAN

I.1.      Latar Belakang Masalah

I.2.      Tujuan dan Manfaat Penulisan

I.3.      Batasan Masalah

I.4.      Metode Penulisan

                        I.5.      Sistematika Penulisan

BAB II           TEORI DASAR

II.1.     Dasar Perhitungan Arus dan Tegangan Hubung Singkat

II.2.     Komponen Simetris

II.3.     Persamaan Umum Gangguan Hubung Singkat

II.4.     Sistem Proteksi Jaringan Distribusi Primer

II.5.     Pemutus Tenaga (CB)

BAB III          GANGGUAN SYMPATHETIC TRIPPING

III.1.   Gangguan Sympathetic Tripping pada Penyulang 20 kV

III.2.   Penanggulangan Gangguan Sympatetic Tripping

III.3.   Data-Data Trafo Tenaga

III.4.   Data Penyulang 20 kV

III.5.   Pengolahan Data-Data

III.5.1.             Impedansi Sumber

III.5.2.             Impedansi Urutan Nol, Positif, dan Negatif

III.5.3.             Kapasitansi

BAB IV          EVALUASI KOORDINASI RELE PROTEKSI TERHADAP KEMUNGKINAN GANGGUAN SIMPATHETIC TRIPPING

IV.1.    Perhitungan Arus Hubung Singkat

IV.2.    Perhitungan Arus di Titik Gangguan

IV.3.    Perhitungan Waktu Kerja Rele

IV.4.    Perhitungan Selektivitas

IV.5.    Perbandingan dengan Data Lapangan

BAB V           KESIMPULAN DAN SARAN

                        V.1  Kesimpulan

V.2  Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunet. MV Network Protectioon System Adjustment of Protection Devices. SOFRELEC, 30 September 1974, Jakarta.
  2. Mochammad Facta, ST. MT. Simpatetik Tripping. Seminar Proteksi Teknik Elektro, UNDIP, Semarang
  3. Pentanahan Netral Sistem Transmisi, Sub Transmsi dan Distribusi Beserta Pengamannya. SPLN 2:1978
  4. Perhitungan Arus Gangguan Hubung Singkat dan Penyetelan Relai. Standar Perhitungan PT. PLN (Persero) Unit Bisnis Jakarta Raya dan Tangerang
  5. Robert E. Owen. Solution to Symphatetic Tripping of Distribution Feeder. MC Graw Edison Co, Canonburg, Pennsylvania.
  6. Soekarto, J. Rele Proteksi Sistem Distribusi Tegangan Menengah. LMK. PT. PLN (Persero)
  7. Soekarto, J. Rele Proteksi Periode 2. LMK. PT. PLN (Persero), Jakarta.
  8. Titarenko, M dan Dukelsky, Noskov. Protective Relaying In Electrical System. Peace Publishers, Moscow.
  9. Transparansi Diklat Relai. PT. PLN (Persero) UDIKLAT, Semarang.
  10. Stevenson, Jr. Analisa Sistem Tenaga. Erlangga, 1996.
  11. Sulasno, Ir. Analisa Sistem Tenaga Listrik. Satya Wacana Semarang, 19933.
  12. Hutauruk. Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan. Erlangga, 1991.

 

Gak bagus tampilannya bah, maklum kurang pas masalah html ini.. bagi yang berminat dapat kirim pesam ke facebookku,

heheheheheh

Terimakasih…

 

2 Responses

  1. kak, saya andre dari semarang … mau sharing donk tentang evaluasi koordinasi relee ,, cz tugas akhir saya juga ambil itu ..boleh minta file nya ?terima kasih

  2. klo boleh kirim ke wedgiandri@std.unissula.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: