STRUKTUR TUJUH KEAJAIBAN PURBA YANG DIBANGUN DENGAN BANTUAN BILANGAN PRIMA TUJUH.

TRONOHEIM – Di balik kesederhanaan Piramida Khufu, bentuk geometrinya ternyata jauh lebih canggih daripada kesan pertama orang yang melihatnya. Daya tahan, kecanggihan, dan ukurannya membuat piramida tersebut menjadi struktur yang paling ba-nvak dipelajari dalam sejarah manusia, dan melahirkan sederet teori tentang bagaimana makam itu dibuat serta mengapa dimensinya begitu besar.

Berbeda dengan teori ilmuwan lain, yang mengupas fisik piramida tersebut, Ole Jorgen Bryn, arsitek dan dosen di Fakultas Arsitektur dan Seni Rupa di Norwegian University of Science and Technology, menggunakan pendekatan berbeda. Riset ilmuwan lain berfokus pada berat batu yang digunakan untuk membangun piramida, sehingga cenderung “melupakan” masalah utama, yaitu bagaimana bangsa Mesir mengetahui dengan pasti di mana mereka harus meletakkan batu ba-ngunan yang luar biasa beratnya itu serta detail proyek yang rumit.

“Dari perspektif seorang arsitek, pertanyaan pertama bukan bagaimana mendirikannya, melainkan bagaimana mengembangkan sistem atau pola pembangunan yangmemungkinkan presisi dan detail proyek itu dikomunikasikan kepada tenaga kerja, misalnya 10 ribu orang buta aksara,” kata Bryn dalam laporan yang dipublikasikan dalam Nordic Journal of Architectural Research.

Hasil foto aerial, yang diambil dari udara, pada 1920-an menunjukkan bahwa piramida itu tidak didirikan di atas dasar berbentuk persegi, melainkan mempunyai skema perencanaan “bintang” atau “wajik”. Fakta tersebut tampaknya tersingkiratau sengaja dihindari dalam banyak studi literatur yang mengupas geometri tingkat tinggi pada piramida itu. Sebagian besar teori pembangunan piramida hanya menyoroti bangunan fisiknya.

Berbagai pertanyaan itu muncul di benak Bryn ketika dia mulai meneliti piramida yang dibangun di dataran tinggi Giza, 2606-2573 SM. Piramida yang se-rirff;- pula disebut Piramida Cheops itu terbuat dari 2,3 juta potongan batu gamping yang beratnya mencapai tujuh juta ton. Dengan tinggi 146,6 meter, piramida itu memegang rekor struktur tertinggi yang pernah dibuat manusia selama hampir 4.000 tahun.

Apa yang ditemukan Bryn sebenarnya cukup sederhana. Dia yakin bangsa Mesir menciptakan pola grid modern dengan memisahkan sistem pengukuran struktur dari bangunan fisik. Bangsa Mesir juga memasukkan toleransi, seperti yang digunakan oleh para arsitek dan insinyur teknik sipil modern.

Untuk memahami pola grid piramida, Bryn mempelajari skema 30 pirami-da tertua Mesir. Dia menemukan sebuah sistem presisi yang membuat bangsa Mesir mampu mencapai titik tertinggi dan terakhir piramida, titik puncak, dengan tingkat akurasi yang mengagumkan.

Bila prinsip yang digambarkan oleh Bryn itu benar, para arkeolog akan memiliki sebuah “peta “baru yang mendemonstrasikan bahwa piramida itu bukan sekadar timbunan batu besar dengan struktur yang tidak diketahui, melainkan sebuah struktur dengan presisi tinggi.

Dalam risetnya, Bryn juga menemukan bahwa pola bangunan dari satu-satunya struktur tujuh keajaiban dunia purba yang masih tersisa itu ternyata dikembangkan dengan bantuan bilangan prima tujuh. “Itu dilakukan tanpa melibatkan teori matematika tingkat lanjut apa pun,” ujarnya.

Sebuah unit yang dibagi tujuh bagian sebenarnya tidak sesuai dengan pola bangunan, karena tujuh adalah bilangan prima. Penggunaan bilangan ini takbisa dihindari karena bangsa Mesir menggunakan satuan royal cubit (RC) yang biasa digunakan untuk bangunan religius dan kerajaan pada masa itu. Satuan unit itu merepresentasikan panjang lengan bawah sang Firaun dan terbagi dalam tujuh telapak tangan (1 RC = 7 p). Sedangkan satu telapak terbagi menjadi empat jari. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa panjang 1 RC adalah 52,355 sentimeter.

Untuk memecahkan problem tersebut, bangsa Mesir membagi piramida setinggi 280 RC itu menjadi tujuh, menghasilkan struktur inti enam tingkat, sedangkan tingkat ketujuh digantikan oleh titik puncak. “Bukti terkuat adanya pembagian piramida menjadi tujuh bagian adalah pemisahan ruang dalam struktur itu,” kata Bryn. “Bilik ratu diletakkan tepat di atas mastaba (bentuk dasar arsitektur makan Mesir) pertama, bilik raja berada pada mastaba kedua, serta galeri agung membentuk ramp di antara mastaba pertama dan kedua.” uwora otw j mtnu i sciEnctwuiy

2 Responses

  1. orang zaman sekarang bisa gak bangun piramida yang seperti itu? biar nyata rekonstruksinya

    • bisa!! tapi untuk dibangun piramida yg sama dengan piramida itu lagi, bukankah hanya akan menyebabkan permasalahan yang baru,.. menurut aku yang pantas dilakukan meneliti dan melestarikan apa yang sudah ada… Kita ambil contoh, situs prasejarah yang ada di indonesia, begitu banyak yang trlantar dan tidak dimanfaatkan buat indonesia itu sendiri….

      SALAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: